Cerita Dibalik Kutukan Benfica

Cerita Dibalik Kutukan BenficaCerita Dibalik Kutukan Benfica – Benfica kembali gagal meraih gelar juara di Liga Eropa selama 2 kali secara berurutan. Dan tentu hal ini langsung menimbulkan ingatan kepada kutukan yang dilontarkan oleh mantan pelatih Benfica yang pernah membawa skuad Benfica menjadi juara Eropa selama 2 musim berturut-turut. Kutukan Bela Guttmann sendiri memang sudah berusia 50 tahun lebih. Namun tidak ada yang tahu apa yang diucapkan oleh pelatih legendaris Benfica yang berasal dari Hungaria ini.

Ada yang mengatakan bahwa Guttmann mengucapkan bahwa Benfica tidak akan lagi menjadi juara di Piala Eropa hingga 100 tahun ke depan usai dirinya membawa Benfica menjadi juara 2 musim beruntun. Kepergian Guttmann sendiri disebabkan pihak manajemen Benfica menolak guna membayarkan bonus kepada dirinya yang mampu membawa Benfica menjadi juara Piala Eropa selama 2 kali beruntun. Dan hal ini langsung membuat Guttmann naik darah.

Dan kutukan bermula kala AC Milan mampu mengalahkan mereka pada babak final Piala Eropa tahun 1963. Lalu tim sekota Milan, Inter melakukannya selang 2 musim berikutnya. Lalu Manchester United di tahun 1968. Usai itu PSV di musim 1988 dan AC Milan di tahun 1990. Bahkan legenda Benfica Eusebio sempat meminta kepada jenazah Guttman ketika ia meninggal 33 tahun lalu agar kutukan di hapus. Namun tampaknya hal tersebut tidak terwujud.

Benfica kembali gagal di final Liga Europa yang digelar di Amsterdam Arena kala mereka kalah dari Chelsea melalui gol Branislav Ivanovic pada menit terakhir untuk membawa Chelsea menjadi juara.

Guttmann sendiri merupakan sosok pelatih yang sangat kontroversial. Ia memang sangat senang menjadi pusat perhatian. Kepemimpinan yang tegas menjadi salah satu ciri khas dirinya.

Guttmann sendiri memiliki kebiasaan bahwa dirinya tidak pernah lebih dari 2 tahun melatih di tim yang sama. Dan dirinya sudah terkenal dengan berpindah-pindah klub. Dalam 2 dekade kepelatihannya antara tahun 1945 hingga 1967, sudah 18 tim ia latih. Dan ia memang mudah untuk hengkang jika tidak ada yang ia suka.

Ketika melatih Milan, ia didepak oleh manajemen meskipun Milan sedang berada di posisi puncak. Dan ia mengeluarkan pernyataan kasar dan aneh dengan menyebut para jajaran petinggi Milan adalah homo. Selain sifatnya yang controversial, dirinya mampu mengenalkan formasi 4-2-4 saat melatih di Sao Paolo.

Di Portugal, Guttmann benar-benar berjaya. Usai membawa Porto juara Liga ia ditarik melaih Benfica. Dan pada babak final tahun 1962 di Amsterdam, Benfica mampu menang dengan skor 5-3 melalui Eusebio. Dan Benfica menjadi juara. Dan Benfica menjadi tim pertama dan satu-satunya yang dibela Guttmann selama 3 musim. Namun manajemen sendiri akhirnya melakukan kesalahan dengan tidak membayarkan hak Guttmann yang akhirnya keluarlah kutukan tersebut.